E-diaries nya indah
blog pribadi yang dikelola oleh siswa MA negeri 1 palembang (Indah Pujayanti)
Minggu, 24 Januari 2016
Rabu, 20 Januari 2016
Senin, 09 November 2015
materi debat 10 november kelas X IPA 1
Pemuda
merupakan generasi penerus bangsa, yang nantinya bukan tidak mungkin salah satu
dari mereka bisa menjadi pemimpin bangsa. Zaman sekarang, bisa dibilang banyak
pemuda dan pemudi yang telah mengukir namanya di batu prestasi bangsa, paling
banyak di bidang pendidikan dan olahraga. Selain itu, tidak sedikit pula
pemuda-pemuda yang justru membuat pengaruh buruk bagi masyarakat sekitarnya.
Padahal kita tahu bahwa pada saat menjelang kemerdekaan Indonesia,
para pemuda lah yang mendesak agar golongan yang tua segera memproklamirkan
kemerdekaan, itu seharusnya menjadi motivasi setiap pemuda untuk lebih berkarya
dan berkreatifitas untuk negaranya.
masa
muda pada umumnya dapat dipandang sebagai suatu tahap dalam pembentukan
kepribadian manusia karakteristis yang menonjol dari pemuda adalah peranannya
dalam masa peralihan menuju pada kedudukan yang bertanggung jawab dalam tatanan
masyarakat antara lain :
a. Kemurnian idealisme
b. Keberanian dan
keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan baru
c. Semangat
pengabdiannya
d. Spontanitas dan
dinamikannya
e. Inofasi dan
kreatifitasnya
f.
Keinginan-keinginan untuk segera mewujudkan gagasan barunya
Berbagai
macam permasalahan (tantangan) generasi muda yang muncul pada saat ini antara
lain:
a.
Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme dikalangan masyarakat
termasuk jiwa pemuda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat
menghancurkan mental anak bangsa misalnya pengaruh lingkungan yang kurang
baik,ketidakdisiplinan terhadap diri sendiri, organisasi-organisasi yang tidak
membangun yang membawa perilaku buruk terhadap pemuda. Dsbnya.
b.
ketidakadanya keyakinan yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya
(yaitu dengan bersikap pesimis terhadap masa depannya)
c. Belum
adanya keseimbangan antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan
yang tersedia, baik yang formal maupun non formal. Fasilitas pendidikan yang
yang disediakan pun tergolong masih khusus pada pemuda-pemuda tertentu belum
secara umumnya, pentingnya sosialisasi dan pengarahan melalui pendidikan
terhadap pemuda perlu ditingkatkan dalam membentuk karakter dan pola pikir anak
bangsa(pemuda) yaitu sebagai contoh dengan meningkatkan pemahaman tentang
nilai-nilai pancasila dalam kehidupan pemuda/i.
d.
Kekurangan lapangan dan kesempatan kerja serta tinggi nya tingkat pengangguran
dan setengah pengangguran dikalangan generasi muda mengakibatkan berkurangnya
produktifitas oleh nilai-nilai kekuasaan dan sebagainya.
e. Masih
langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelefansikan pendapat sikap dan
tindakanya dengan kenyataan yang ada.
Potensi generasi muda dalam pembangunan
Dipandang
dari Dimensi Pembangunan Nasional
Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnyaand seluruh masyarakat Indonesia. Pengembangan generasi muda dalam konteks inidiarahkan untuk mempersiapkan kader-kader bangsa yang utuh dan paripurnaberkualifikasi kader bangsa seperti yang diisyaratkan tujuan pembangunan nasionalkita.Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila bertujuan untuk meningkatkanketakwaan terhadap Tuhan YME, mencerdaskan kehidupan bangsa, berketerampilan,mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangatkebangsaan.
Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnyaand seluruh masyarakat Indonesia. Pengembangan generasi muda dalam konteks inidiarahkan untuk mempersiapkan kader-kader bangsa yang utuh dan paripurnaberkualifikasi kader bangsa seperti yang diisyaratkan tujuan pembangunan nasionalkita.Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila bertujuan untuk meningkatkanketakwaan terhadap Tuhan YME, mencerdaskan kehidupan bangsa, berketerampilan,mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangatkebangsaan.
Pendapat Para Ahli Mengenai Peran Pemuda dalam
Pembangunan
Para ahli berbeda
pendapat dalam mengungkap peran pemuda dalam pembangunan, perbedaan itu
setidaknya terjadi pada pengungkapan istilah dan jumlah item dari peran-peran
itu. Dalam hal ini setidaknya ada lima peran pemuda dalam
pembangunan adalah sebagai berikut :
Satu, Pemuda
sebagai Dinamisator Pembangunan
Dinamisator dalam
bahasa sederhananya adalah penggerak.Satu hal lagi yang harus kita ingat bahwa
pemuda itu diartikan juga komunitas penduduk yang mempunyai pikiran-pikiran
muda seperti kreatif, inovatif dan desduktrif. Karena mempunyai
pikiran-pikiran muda seperti itu, maka pemuda akan senantiasa mempunyai kemauan
dan kemampuan. Ketika kemauan dan kemampuan itu bersatu maka pemuda akan
menjadi penggerak.
Dua, Pemuda sebagai Katalisator
Pembangunan
Perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan terkadang masih ada gap(jarak). Gap ini
bisa terjadi dalam wujud ketidaksesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan,
bisa juga dalam bentuk begitu lamanya jarak waktu antara perencanaan dan
pelaksanaan. Dalam kontek gap seperti di atas, pemuda dengan
jiwanya yang selalu kreatif, kreatif, dan desduktrif bisa menempatkan diri
sebagaikatalisator (penghubung yang mempercepat) kesesuaian perencanaan dan
pelaksanaan serta ketepatan waktu antara perencanaan dan pelaksanaan.
Tiga, Pemuda
sebagai Motivator Pembangunan
Pembangunan
merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat, kita tidak boleh membebankan
pelaksanaan pembangunan hanya kepada pemerintah.Dalam kontek ini pemuda harus
memerankan diri sebagai motivator (pendorong) kepada semua elemen masyarakat
untuk maubersama-sama bahu-membahu melaksanakan dan mensukseskan
pembangunan.
Empat, Pemuda
sebagai Inovator Pembangunan
Dalam kajian
psikologi pemuda mempunyai karakteristik selalu berpikir rasional dan
ideal.Karena karakteristik itulah, pembaharuan-pembaharuan sering muncul dari
pemuda.Karakteristik yang akhirnya melahirkan semangat inovasi harus juga
merambah ke sektor pelaksanaan pembangunan. Pemuda dengan jiwa yang tidak
pernah puas terhadap satu keberhasilan akan selalu mencari keberhasilan kedua,
ketiga dan seterusnya. Pemuda dengan jiwa inovasinya tidak akan merasa puas dan
berdiam diri dengan suatu system yang telah mencapai angka keberhasilan 100%
tetapi akan selalu berimprovisasi mencari sebuah system yang bisa menghantarkan
keberhasilan ke angka 1000%.
Lima, Pemuda sebagai
Evaluator
Pembangunan
Derap langkah
proses pembangunan yang dilakukan semua pihak tentu tidak boleh lepas dari
kontrol kaum intelektual muda (pemuda) yang secara kapabilitas mereka lebih
mengetahui indikator-indikator penyimpangan, penyelewengan, kegagalan, dan
manipulasi lainnya dalam kegiatan pembangunan. Bentuk kontrol sebagai bagian
dari wujud evaluasi hendaknya dilakukan secara efektif, efisien dan tidak
berdampak negatif terhadap laju pembangunan. Audensi, Dengar Pendapat,
dan Dialog merupakan alternatif yang bisa dipilih pemuda dalam
menyampaikan hasil evaluasi pembangunan.
Ke-lima peran pemuda tersebut akan berhasil guna dan berdaya
guna dalam proses pembangunan ketika ada komitmen dan konsistensi pemuda untuk
senantiasa melakukan perubahan dan perbaikan demi kesejahteraan masyarakat,
tidak terjebak pada ranah pragmatisme yang mengungkung idealisme dan
rasionalisme, tidak mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok, tidak juga
menjadi alat politik dari sebuah kelompok. Hal ini perlu dipertegas mengingat
praktek-praktek in-idealisme, dan in-konsistensi semakin sering muncul
kepermukaan.
Pemuda dengan kapasitas dan kapabilitas yang tidak diragukan
lagi, sudah mampu masuk elemen-elemen pelaksana pembangunan, ada yang menjadi
bagian dari pemerintah (eksekutif), pengusaha (kontraktor), lembaga swadaya masyarakat,
dewan perwakilan rakyat (legislatif), aparatur penegak hukum (yudikatif) dan
lain-lain. Dalam kontek perubahan dan perbaikan hendaknya semua elemen
pelaksana pembangunan yang didalamnya ada pemuda duduk bersama melakukan
kajian strategis perencanaan, pelaksanaan, dan kontroling/evaluasi pembangunan
dengan senantiasa membingkai diri dengan nilai-nilai agama; jujur,
adil, bersih, berpihak kepada kesejahteraan masyarakat, dan professional.
Apabila pemuda sudah mampu memainkan peran
dalam pembangunan dengan baik, dan derap langkah memainkan peran
tersebut didasari ilmu serta dikerangka-i nilai-nilai agama, maka menjadi
harapan besar proses pembangunan akan berhasil mensejahterakan rakyat.
Potensi
generasi muda secara umum
Potensi
yang terdapat pada generasi muda yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut:
a.
Idealisme dan daya kritis
Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan
yang ada sehingga dia dapat melihat kekurangan dalam tatanan tersebut dan
secara wajar mampu mencari gagasan baru sebagai alternatif kearah perwujudan
kearah tatanan yang lebih baik
b. Dinamika
dan kreatifitas
Adanya idealisme pada generasi muda mnyebabkan mereka
mimiliki potensi kedinamisan dan kreatifitas, yakni kemampun dan kesediaan
untuk mengadakan perubahan, pembaharuan dan penyempurnaan kekurangan yang ada
ataupun mengungkapkan gagasan yang baru
c.
Keberanian mengambil resiko
Perubahan dan pembaharua termasuk pembangunan mengandung
resiko dapat meleset terhambat atau gagal. Namun mengambil resiko itu
diperlukan jika ingin memperoleh kemajuan.
d. Optimis
dan kegairahan semangat
Kegagalan tidak menyebabkan generasi mudah patah semangat.
Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda merupakan daya
pendorong untuk mencoba maju lagi.
e. Sikap kemandirian dan disiplin murni
Generasi memiliki keinginan untuk
selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu
dilengkapi kesadaran disiplin murni pada dirinya agar mereka dapat menyadari
batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.
f. Terdidik
Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara
menyeluruh baik dalam arti kuantitatif maupun dalam arti kualitatif, generasi
muda secara relatif lebih terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar
dari generasi pendahulunya.
g. Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
Keanekaragaman generasi muda
merupakan cermin keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat
menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan eksklusif, tapi dapat
merupakan potensi dinamis dan kreatif sehingga merupakan sumber yang besar
untuk kemajuan bangsanya. Maka para pemuda dapat didorong untuk menampilkan
potensinya yang terbaik dan diberi peran yang jelas serta bertanggung jawab
dalam menuju cita-cita bangsa.
h.
Patriotisme dan Nasionalisme
Pemupukan rasa kebangsaan, kecintaan dan turut memiliki
bangsa dan negara dikalangan pemuda perlu ditingkatkan
i. Fisik
kuat dan jumlah banyak
Potensi ini merupakan kenyataan sosiologis dan demografis.
Dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembangunan bangsa dan negaranya yang
menghendaki pengarahan tenaga dalam jumlah besar.
j. Sikap
kesatria
kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan
pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang tinggi adalah unsur-unsur
yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi sikap kesatria
k.
Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi
Para pemuda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka
pengembangan ilmu dan teknologi secara fungsional dapat dikembangkan sebagai
transformator terhadap lingkungannya.
Jumat, 30 Oktober 2015
Why
We Should Master All The English Skills To face ASEAN Economic Community 2015
2.1
The Importance of English…………………………………………………...4
2.2
ASEAN Economic Community 2015……………………………….………8
2.3
The Role of English in ASEAN Economic Community 2015…………...9
2.4 The positive and Negative Points
of Using English in AEC 2015…….....10
Conclusion………………………………………………………………………....12
References………………………………………………………………………....13
vi
WHY WE SHOULD MASTER ALL THE ENGLISH
SKILLS TO FACE ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015
2.1 The Importance of English
In today’s global world, the importance of English can not
be denied and ignored since English is the most common language spoken everywhere.
With the help of developing technology, English has been playing a major role
in many sectors including medicine, engineering, and education, which, in my
opinion, is the most important arena where English is needed. This can merely
be based on the efficiency of tertiary education. Consequently, English should
be the medium of instruction at universities in Indonesia for the following
three reasons: finding a high-quality job, communicating with the international
world, and accessing scientific sources in the student’s major field.
The
first reason for why English should be the medium of instruction at
universities in Indonesia is it helps students to find a high quality jobs for
students. In business life, the most important common language is obviously
English. In addition to this, especially, high-quality jobs need good
understanding ability and speaking in English. Therefore, companies can
4
easily
open out to other countries, and these companies generally employ
graduates
whose English is fluent and orderly. For example, the student who is graduated
from a university which takes English as a major language will find a better or
high-quality job than other students who don’t know English adequately. In
other words, the student who knows English is able to be more efficient in his
job because he can use the information from foreign sources and web sites. He
can prepare his assignments and tasks with the help of these information.
Therefore, undoubtedly, his managers would like his effort or prepared
projects. In addition, many high-quality jobs are related with international
communication and world-wide data sharing. University graduates who are in a
international company and business are needed to communicate with foreign
workers. For instance, if their managers want them to share the company’s data,
they are expected to know English. Moreover, they will even have to go business
trip for their company. Absolutely, all of these depend on speaking English: as
a result, new graduates have to know English in order to get a high-quality
job, and the others, who don’t know English, may have lack of communication and
be paid less money.
The
second and the most important reason, for English to be the medium of
instruction in the Indonesian higher education system is it enables
5
students
to communicate with the international world. In these days, in my opinion, the
most important thing for both university students and graduates is to follow
the development in technology. For this reason, they have to learn common
language. Certainly, they should not lose their interest on communicating with
the world. However, some of the university students can’t obtain English
education in their university. Unfortunately, these people may lose their
communication with worldwide subjects and topics. In short, they will not
communicate foreign people. To prevent these people from lacking of speaking
English, universities’ administration will provide English education to them.
In addition, university students can use some specific hardware and software of
computers with their English to communicate others. For example, the Internet,
which, in my opinion, is the largest source in the world, based on English
knowledge and information. Also, most of the softwares such as “Windows”, “Microsoft
Office”, “Internet Explorer” are written in English firstly, and these programs
are the basic vital things for communication over computer. That is to say,
even in a little research about something, they need these programs and the
Internet to find necessary sources and information.
The
last reason for favoring English as the medium of instruction of Indonesian
universities is it facilitates to access information. All of the
6
students
have to do some projects or home works which are related with their field
during the university education. In these projects or home works, they have to
find some information which is connected with their subject. They find sources
from English web sites and books, but they have to replace these data to their
projects. During these process, if they know English, they will not come across
with any difficulty, but if they don’t know, even they may not use these data.
As a result, the student who knows English will be more successful at his/her
project. For this reason, to obstruct possible inequity between students,
management of universities should accept English as a second language in order
to provide accessing information to the students. In short, university students
need to know English to access information.
All
in all, the education in universities should be done with English for three
reasons. First, students who know English are able to find their favourite job
related with their field. Second, they can communicate with others
internationally.
Third,
as a major language in universities, English makes accessing information easy
for students. In my opinion, internationally, people need one common language.
For many years, English has been the common world-
wide
language, and it will be in the future.
7
For
this reason, if you want to follow trends, new gadgets and technology,
modernization of the developing world, you have to know English whatever age
you are in.
2.2 ASEAN Economic Community 2015
The purpose
of the ASEAN Economic Community is to improve the economic competitiveness of
ASEAN countries to make ASEAN as a production base not only become the market
of developed countries, such as America, European countries and the countries
of East Asia, as well as attracting investment and improving trade among its
members in order to compete in the face of global challenges, and furthermore
is to reduce poverty and social disparities between member States through a
number of mutually beneficial economic cooperation.
ASEAN as a single market and single production-based,
supported by elements of the free flow of goods, services, investment, labor and
capital flows educated wider. ASEAN as a region with high economic
competitiveness, with elements of competition rules, consumer protection, intellectual
property ha katas, infrastructure development, taxation and e-commerce .ASEAN
as a region of equitable economic development with elements of small and medium
enterprise development, and the ASEAN integration initiative for the State CMLV
(Cambodia, Myanmar, Laos, and
8
Vietnam).
ASEAN as a region fully integrated into the global economy with a coherent
approach in the external economic relations in the region and increase
participation in global production networks.
2.3 The role of English in ASEAN
Economic Community 2015
Nowadays, in the global era, communication
has become one of the most crucial elements. Without good communication, people
from different nations won’t be able to understand each other, when people
don’t understand each other, there are possibilities that misunderstanding will
happen. That’s why, good communication among people from different countries is
needed. This situation, where people need to understand each other with good
communication, urges people to acquire global.
English even also used in so many
branches of disciplines such as philosophy,sociology, literature, linguistics,
law, and others. Therefore, by learning English, itwill be easier to acquire
new knowledge. Furthermore, it has also been officially proclaimed by as an
international language which means that in the internationalschool level,
English language is always used as the medium language. In Indonesia For
instance, in RSBI or SBI schools, English is used as the medium for most of the
courses except Bahasa Indonesia course and local language courses such as
Javanese,Balinese and others.
9
Since
the members of AEC agree to use English as their communication language,
English plays important role in the process they communicate each other.
English
has become important to be mastered by all the element of the country to
support that program in each country. English really takes effect for AEC 2015,
the residents should need to improve their English skills to compete with other
countries, because it can influence the economy level and competitive. It also
attract more foreign to invest.
Therefore, English is very important for
people who will be facing the entry of the AEC especially to Indonesia. So that
English language lessons in education must be improved in order to compete, and
facing the AEC in Indonesia .
2.4 The Positive and Negative Points
of Using English in ASEAN Economic Community 2015
We
all know ASEAN countries had decided that English is the official language for
ASEAN Economic Community 2015. That
condition compels us to be able to speak English since we are willing to face
AEC 2015.
10
ASEAN Economic Community has positive and
negative point. The positive point, we can say, can encourage the development
of the country, because this globalization will give big opportunity to develop
any kinds of sector.
To face this globalization era the first
thing that we can do is to master English because communication is the most
important thing when we build
a relationship between
people. Because English
is the most spoken language that used in every country. So, to keep in track in
this globalization era, understanding
and using English well is a must. When people cannot understand
English, they cannot communicate with foreign people and when they cannot
communicate with foreign people, they cannot have a good relationship and they
cannot face the globalization era.
The fundamental matter that should be prioritised by the
government, Especially in Indonesia in
facing the AEC in 2015 is to improve its orientation towards
education and human resource development. The Government should prioritise, within the next five
years, improving the educational qualifications of its workforce which consists
largely of primary school graduates, to be upgraded to at least a high school
graduate. This is urgently needed so that workers are able to sustain
themselves once the AEC comes
11
into effect.
Improving English language lessons, so that they can face the
AEC 2015.
Then, the negative point doesn’t
really become such big issue, through globalization area, there will be more
various culture that will come into Indonesia, we cannot filter it, if we can
keep our originality it will be better, but if we can’t so our own culture will
fade away. If we are able to select the good one, so it will enrich our
culture.
To
solve this negative point, we, especially in Indonesia, have to keep our
culture originality and make it as our unique point, so it can attract
foreigner to come to Indonesia. And also, Indonesia
should gradually improve its scholarship programme for local students and
overseas students, and
implement performance targets to increase the national
number of post-graduate degree holder. With the increase in numbers of workers with
higher educational qualifications through reform in Indonesia education,
Indonesia will become a potentially strong player in the regional and global
workforce sectors. Although the country will face the AEC in 2015 highly
unprepared, I believe that through proper education policy reform, Indonesia
will be able to ride the momentum within the next few years.
12
References
Ø KPMG. 2014. An
Overview of Infrastructure Opportunities in ASEAN. (accessed 28
November 2014).
Ø Goldman and Sachs. 2013. ASEAN’s Half a Trillion
Dollar Infrastructure Opportunity. Asia Economics Analyst, Issue No. 13/18.
(accessed 28 November 2014
Ø Wignaraja, G. 2014. The Regional Comprehensive
Economic Partnership: An Initial Assessment. In P. Petri and T. Guoqiang (eds.)
New Directions in Asia-Pacific Economic Integration, Honolulu: East-West Center. (accessed 28
November 2014).
Ø Sumedi,Nadine.June
24,2014.Education Hampering Indonesia’s Preparation in AEC 2015. Retrieved by : http://thejakartaglobe.beritasatu.com/news/education-hampering-indonesias-preparations-aec-2015/ .
Ø Wibisono,Nuansa,Adhe.May
30,2014.Indonesia Education. Retrieved by : http://www.establishmentpost.com/aec-2015-indonesian-education-reform/
.
Ø Sneddon,
James. 2003.The Indonesian Language, Its History and Role in
ModernSociety.Sydney: NSW Press.
Ø Yan Mujiyanto,
et al. 2010.Pengantar Ilmu Budaya. Yogyakarta: Pelangi Publishing.
Ø .Chomsky, N.A.
1976. Reflections on Language New York: Pantheon.
Ø https://gitarahmadani9421.wordpress.com/2014/10/08/dampak-positif-belajar-bahasa-inggris/
Ø
Ø http://nyalanilmu.blogspot.co.id/2012/02/dampak-positif-dan-negatif-belajar.html
Ø http://ilhamsupriyanto.blogspot.co.id/2015/05/penguasaan-bahasa-inggris-sebagai.html
13
Conclusion
The conclusion is for the ASEAN Economic Community in 2015, English language
is needed to learn, in order to face the era.
In social life, English
is needed to communicate,
especially when many
tourists come to Indonesia
for a vacation, business, and others. when looking
for a job in ASEAN Economic
Community 2015, which is where the all-free would
be easier to get the job.
Langganan:
Postingan (Atom)














